Dahulu, di Kelurahan Lappa, semua orang mengenal Abduh sebagai pemuda yang sangat kuat namun temperamental. Ia jarang sekali terlihat di masjid dan lebih sering menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang meresahkan warga. Kekuatannya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, membuat orang-orang segan sekaligus khawatir saat ia melintas.
Perubahan mulai tampak setelah Abduh bertemu dan menikah dengan Aminah.
Aminah adalah sosok yang sabar dan selalu mengingatkan Abduh tentang indahnya berbagi kebaikan. Perlahan, hati Abduh yang keras mulai melunak, dan ia mulai belajar untuk menata hidupnya menjadi lebih bermakna demi keluarga kecilnya.
Sebuah Ujian Berat
Namun, sebuah ujian berat datang menghampiri. Abduh jatuh sakit parah yang menyerang kaki kirinya. Dokter Qasim dengan berat hati menyampaikan bahwa kaki kiri Abduh harus diamputasi agar nyawanya bisa terselamatkan.
"Dunia terasa runtuh seketika bagi Abduh yang terbiasa hidup dengan fisik yang perkasa."
Di masa-masa sulit pemulihan, Aminah tetap setia mendampingi. Ia selalu membisikkan doa dan kata-kata penyemangat agar Abduh tidak putus asa.
Saat itulah, Abduh menyadari bahwa meski kehilangan satu kaki, ia masih memiliki hati yang harus ia persembahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Kini, di usianya yang ke-55, Abduh telah bertransformasi menjadi sosok yang sangat berbeda. Dengan bantuan sebuah tongkat kayu yang kuat, ia selalu melangkah tegap menuju Masjid Jami Nailul Maram.
Suara ketukan tongkatnya di aspal jalanan Kelurahan Lappa seolah menjadi alarm bagi warga bahwa waktu sholat telah tiba.
Sang Panglima Masjid
Warga menjulukinya 'Panglima Masjid'. Bukan karena ia memimpin perang, melainkan karena kedisiplinannya yang luar biasa. Sebelum azan berkumandang, Abduh sudah berada di sana, memastikan kebersihan masjid dan menyapa anak-anak seperti Zaki dengan senyumnya yang penuh karisma.
Suatu sore, Abduh berbincang dengan Pak RT di serambi masjid. Ia menceritakan masa lalunya yang kelam sebagai pelajaran bagi yang lain. Abduh ingin semua orang tahu bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan Allah, dan kekurangan fisik bukanlah penghalang untuk beribadah secara maksimal.
Masjid Jami Nailul Maram di Sinjai Utara menjadi saksi bisu ketaatan Abduh. Tak peduli hujan deras atau panas menyengat, ia tidak pernah absen sholat lima waktu berjamaah. Baginya, setiap langkah menuju rumah Tuhan adalah bentuk syukur atas kesempatan hidup kedua yang diberikan kepadanya.
Langkah Cahaya
Kisah Abduh menjadi teladan bagi seluruh warga Sinjai Utara. Sang Panglima Masjid telah membuktikan bahwa raga boleh terbatas, namun semangat untuk mengabdi pada Sang Pencipta tidak boleh memiliki batas.
Ia terus melangkah, menebar inspirasi dan cahaya di setiap jejak langkah kakinya yang dibantu tongkat.