Dari Lisan ke Perbuatan, Wujud Nyata Ketakwaan
SINJAI – Suasana khusyuk menyelimuti Salat Jumat di Masjid Jami Nailul Maram, Jumat (10/4/2026). Dalam khutbahnya, Ustadz Andi Maddolangeng menyampaikan pesan kuat dan menggugah yakni menjaga takwa setelah Ramadan jauh lebih menantang daripada meraihnya.
Di hadapan jamaah, khatib menekankan bahwa takwa bukan hanya ritual sesaat, melainkan harus terus hidup dalam keseharian. Dua hal utama yang menjadi tolok ukur takwa, kata dia, adalah menjaga perkataan dan perbuatan.
Ia menjelaskan, orang yang bertakwa akan menjadikan iman sebagai “rem” dalam menjalani kehidupan. Setiap langkah dan keputusan selalu dikendalikan oleh nilai-nilai keimanan, sehingga terhindar dari perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Selain itu, ciri lain orang bertakwa adalah konsisten dalam berinfak dan bersedekah, tanpa mengenal kondisi. Baik saat lapang maupun sempit, sehat atau sakit, muda maupun tua, semangat berbagi harus tetap terjaga.
“Infak tidak harus selalu sembunyi-sembunyi. Sesekali dilakukan secara terbuka agar bisa menjadi motivasi bagi orang lain,” ungkapnya.
Dalam khutbahnya, Ustadz Andi Maddolangeng juga mengingatkan pentingnya mengendalikan emosi sebagai bagian dari ketakwaan. Menahan amarah, mengontrol nafsu, serta memaafkan kesalahan orang lain menjadi ciri nyata seorang hamba yang bertakwa.
Di bulan Syawal ini, jamaah diajak untuk melakukan introspeksi diri. Apakah nilai-nilai Ramadan masih terjaga, atau justru mulai luntur seiring berlalunya waktu.
“Sebelas bulan ke depan adalah ujian sesungguhnya. Mari kita buktikan bahwa nilai Ramadan tetap hidup hingga bertemu kembali dengan Ramadan berikutnya,” tutupnya. (AaN)
Diterbitkan Oleh