Alhamdulillah, Apresiasi yang tinggi atas pencapaian sukses dan lancar serta peningkatan hewan qurban tahun ini terhadap Pak Ketua Panitia dan Sekertaris, Bendahara serta seluruh jajaran Panitia Qurban Masjid Jami Nailul Maram, begitupula apresiasi yang tinggi terhadap Jamaah (Warga) dimanapun berada yang mempercayakan penyembelihan dan pendistribusian hewan qurbannya kepada Panitia Qurban Masjid Jami Nailul Maram, semoga kita semua dipanjangkan umur yang berkah oleh Allah SWT, sehingga kelak tahun depan kita semua dapat kembali berpartisipasi dalam hal tersebut, Salamakki Tafadasalama manekki Aamiin🤲🤲 🙏Alhamdulillah, Apresiasi yang tinggi atas pencapaian sukses dan lancar serta peningkatan hewan qurban tahun ini terhadap Pak Ketua Panitia dan Sekertaris, Bendahara serta seluruh jajaran Panitia Qurban Masjid Jami Nailul Maram, begitupula apresiasi yang tinggi terhadap Jamaah (Warga) dimanapun berada yang mempercayakan penyembelihan dan pendistribusian hewan qurbannya kepada Panitia Qurban Masjid Jami Nailul Maram, semoga kita semua dipanjangkan umur yang berkah oleh Allah SWT, sehingga kelak tahun depan kita semua dapat kembali berpartisipasi dalam hal tersebut, Salamakki Tafadasalama manekki Aamiin🤲🤲 🙏
Kembali ke Berita
Dakwah dan Kajian 10 April 2026 45 Kali Dibaca

Dari Lisan ke Perbuatan, Wujud Nyata Ketakwaan

SINJAI – Suasana khusyuk menyelimuti Salat Jumat di Masjid Jami Nailul Maram, Jumat (10/4/2026). Dalam khutbahnya, Ustadz Andi Maddolangeng menyampaikan pesan kuat dan menggugah yakni menjaga takwa setelah Ramadan jauh lebih menantang daripada meraihnya.

 

Di hadapan jamaah, khatib menekankan bahwa takwa bukan hanya ritual sesaat, melainkan harus terus hidup dalam keseharian. Dua hal utama yang menjadi tolok ukur takwa, kata dia, adalah menjaga perkataan dan perbuatan.

 

Ia menjelaskan, orang yang bertakwa akan menjadikan iman sebagai “rem” dalam menjalani kehidupan. Setiap langkah dan keputusan selalu dikendalikan oleh nilai-nilai keimanan, sehingga terhindar dari perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

 

Selain itu, ciri lain orang bertakwa adalah konsisten dalam berinfak dan bersedekah, tanpa mengenal kondisi. Baik saat lapang maupun sempit, sehat atau sakit, muda maupun tua, semangat berbagi harus tetap terjaga.

 

“Infak tidak harus selalu sembunyi-sembunyi. Sesekali dilakukan secara terbuka agar bisa menjadi motivasi bagi orang lain,” ungkapnya.

 

Dalam khutbahnya, Ustadz Andi Maddolangeng juga mengingatkan pentingnya mengendalikan emosi sebagai bagian dari ketakwaan. Menahan amarah, mengontrol nafsu, serta memaafkan kesalahan orang lain menjadi ciri nyata seorang hamba yang bertakwa.

 

Di bulan Syawal ini, jamaah diajak untuk melakukan introspeksi diri. Apakah nilai-nilai Ramadan masih terjaga, atau justru mulai luntur seiring berlalunya waktu.

 

“Sebelas bulan ke depan adalah ujian sesungguhnya. Mari kita buktikan bahwa nilai Ramadan tetap hidup hingga bertemu kembali dengan Ramadan berikutnya,” tutupnya. (AaN)

 

Bagikan Artikel : WhatsApp
T

Diterbitkan Oleh

Tim Website Nailul Maram