Kematian Muh. Nasran Jadi Pengingat: Jangan Terlena Mengejar Dunia
LAPPA, Suasana haru menyelimuti Masjid Jami Nailul Maram saat Pimpinan Pondok Pesantren Ibadurrahman, Ustadz H. Musannif Junaid Qahar, menyampaikan khutbah Jumat, Jumat (5/6/2026).
Di tengah duka atas wafatnya salah seorang jemaah sekaligus orang tua yang dihormati masyarakat, Muh. Nasran HL, khatib mengajak umat menjadikan kematian sebagai bahan renungan dan evaluasi diri.
Dalam khutbahnya, Ustadz Musannif menyoroti kehidupan manusia yang hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengejar urusan dunia. Sejak pagi hingga petang, manusia disibukkan dengan berbagai aktivitas, baik di kantor, di jalan, di laut, maupun di berbagai tempat lainnya demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Sering kali kita begitu sibuk mengejar target duniawi hingga lupa memperhatikan kesehatan, keluarga, bahkan tujuan utama kehidupan,” ungkapnya di hadapan jemaah.
Menurutnya, banyak manusia yang tanpa sadar terlena oleh kenikmatan dunia. Kesibukan dan pencapaian yang diraih terkadang membuat seseorang seolah-olah akan hidup selamanya dan jauh dari kematian.
Padahal, kata dia, setiap manusia telah dipastikan akan menghadapi kematian. Perbedaannya hanya pada waktu pelaksanaannya yang menjadi rahasia Allah SWT.
“Kita semua sudah divonis mati. Yang kita tunggu hanyalah kapan waktunya. Kematian tidak akan bisa dimajukan ataupun diundur walau hanya sedetik, meskipun manusia berusaha dengan berbagai cara,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa kabar wafatnya keluarga, kerabat, maupun tetangga seharusnya menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.Segala jabatan, harta, dan target yang selama ini dikejar pada akhirnya akan ditinggalkan.
Karena itu, Ustadz Musannif mengajak jemaah untuk mempersiapkan bekal terbaik sebelum ajal datang menjemput. Setidaknya ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian setiap muslim.
Pertama, memperbanyak amal ibadah, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kedua, memperbanyak doa kepada Allah SWT, terutama memohon agar diberikan akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah.
Ketiga, memperbanyak amal saleh yang bernilai jariyah sehingga pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.
“Jangan sampai kita terlalu berlebihan mencintai dunia. Persiapkan bekal terbaik karena suatu saat semua yang kita miliki akan kita tinggalkan,” pesannya.
Khutbah tersebut menjadi pengingat bagi seluruh jemaah bahwa kematian bukan sekadar kabar duka, melainkan nasihat nyata agar manusia senantiasa memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT sebelum datang waktu yang tidak seorang pun mengetahui kapan tibanya. (AaN)
Diterbitkan Oleh