Jamaah Masjid Hidupkan Malam Ramadan dengan Qiyamul Lail
SINJAI, Pelaksanaan ibadah Qiyamul Lail pada sepuluh malam terakhir Ramadan kembali digelar di Masjid Jami Nailul Ma'ram.
Tradisi ibadah malam ini menjadi salah satu momen yang dinantikan umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah menjelang akhir bulan suci.
Ketua Pengurus Masjid Jami Nailul Ma'ram, Muzawwir, mengungkapkan bahwa pelaksanaan qiyamul lail tahun ini tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama sepuluh hari terakhir Ramadan dan terbuka bagi masyarakat luas.
“Kami melaksanakan qiyamul lail selama 10 hari terakhir Ramadan. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat sekitar dan juga masyarakat umum lainnya yang ingin memperbanyak ibadah di penghujung Ramadan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa rangkaian ibadah malam tersebut dimulai pada pukul 02.00 WITA. Para jamaah yang dipimpin oleh ustaz Ibnu Adam akan melaksanakan berbagai ibadah seperti salat malam, zikir, doa, hingga tadarus Al-Qur’an sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tradisi menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan ini merujuk pada teladan Rasulullah SAW. Dalam sejumlah riwayat hadits, disebutkan bahwa Muhammad sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan.
Salah satu riwayat datang dari istri Rasulullah, Aisyah binti Abu Bakar, yang menyebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah "mengencangkan ikat pinggangnya”, sebuah ungkapan yang menggambarkan kesungguhan beliau dalam meningkatkan ibadah.
Selain memperbanyak salat malam, Rasulullah juga dikenal melaksanakan i’tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid sebagai bentuk taqarrub atau upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tradisi i’tikaf ini kemudian diikuti oleh umat Islam hingga kini. Umumnya, jamaah mulai beritikaf sejak malam ke-21 Ramadan hingga malam takbiran Idulfitri.
Selama masa i’tikaf, jamaah dianjurkan untuk tetap berada di area masjid dan fokus pada ibadah, seperti salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Bahkan dalam pelaksanaan i’tikaf yang lebih utama (afdhal), jamaah dianjurkan untuk tidak keluar dari lingkungan masjid, termasuk untuk mengunjungi keluarga, kecuali karena kebutuhan yang sangat mendesak.
Melalui kegiatan qiyamul lail dan i’tikaf ini, diharapkan umat Islam dapat memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadan, sekaligus meraih keutamaan malam Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an lebih baik dari seribu bulan.
Diterbitkan Oleh