Kelompok 1: H. Muh. Sadar, Hj. Nikma, Nasrullah, Ratnawati, Rustan, Niar, Nurlaela | Kelompok 2: Djubirusman Madya, Sanusi Madya Mrzz, Muh. Arsyad Madya, H. Basri Nurdin, Muh. Ishak Nurdin, Abd. Rasid, Tarmadi | Kelompok 3: Zulfadli B, Haliq Abdul Wahid BM, Nurtina, Sribulan, Muhammad Idris, Baharuddin, Hj. Farida | Kelompok 4: Rosmawati Madya, H. Akbar, Affzaturrahman Akbar, Ilham Cokro, Muhdar, Syamsul Bahri, H. Safri | Kelompok 5: H. Mappaselle, Muh. Amir, Hj. Maswiah, Sultan, Ratna HB, Abd. Muzakkir, Hj. Rohani | Kelompok 6: Muh. Anis, Sudirman, Hj. Syamsiah Junaid, Muh. Arif, Nur Akhmad, H. Muh. Amir Siri, Munandar Muhti | Kelompok 7: Maksum, Abd. Samad, Sukman, Fauziah Husain, Muh. Rezky Sakti Hidayat, Sabri Hidayat, Ambo Tang Rauf | Kelompok 8: Munawirul Alma, Ridwan H. Junaid, Mustamin Bin Poto, Rahmatia H. P, Mappiare DG Maloga, Mustakim, Alimuddin Tahir | Kelompok 9: Syamsuddin Daud | Kelompok 1: H. Muh. Sadar, Hj. Nikma, Nasrullah, Ratnawati, Rustan, Niar, Nurlaela | Kelompok 2: Djubirusman Madya, Sanusi Madya Mrzz, Muh. Arsyad Madya, H. Basri Nurdin, Muh. Ishak Nurdin, Abd. Rasid, Tarmadi | Kelompok 3: Zulfadli B, Haliq Abdul Wahid BM, Nurtina, Sribulan, Muhammad Idris, Baharuddin, Hj. Farida | Kelompok 4: Rosmawati Madya, H. Akbar, Affzaturrahman Akbar, Ilham Cokro, Muhdar, Syamsul Bahri, H. Safri | Kelompok 5: H. Mappaselle, Muh. Amir, Hj. Maswiah, Sultan, Ratna HB, Abd. Muzakkir, Hj. Rohani | Kelompok 6: Muh. Anis, Sudirman, Hj. Syamsiah Junaid, Muh. Arif, Nur Akhmad, H. Muh. Amir Siri, Munandar Muhti | Kelompok 7: Maksum, Abd. Samad, Sukman, Fauziah Husain, Muh. Rezky Sakti Hidayat, Sabri Hidayat, Ambo Tang Rauf | Kelompok 8: Munawirul Alma, Ridwan H. Junaid, Mustamin Bin Poto, Rahmatia H. P, Mappiare DG Maloga, Mustakim, Alimuddin Tahir | Kelompok 9: Syamsuddin Daud |
Kembali ke Berita
Dakwah dan Kajian 17 April 2026 55 Kali Dibaca

Ustadz Rahmatullah: Orientasi Dunia Tanpa Akhirat Berujung Kegelisahan

SINJAI, Kerja keras tanpa arah bisa berujung sia-sia. Itulah pesan kuat yang disampaikan dalam khutbah Jumat yang disampaikan Ustadz Rahmatullah Khaliq, LC  di Masjid Jami Nailul Maram, Kelurahan Lappa, Jumat (17/4/2026), yang mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada orientasi dunia semata hingga melupakan akhirat.

 

Dalam khutbahnya, ia menyoroti fenomena kehidupan masyarakat yang kerap terjebak dalam ambisi duniawi, namun justru jauh dari rasa bahagia dan ketenangan.

 

Ia menggambarkan banyak orang yang telah bekerja keras, banting tulang, dan memeras keringat demi meraih kesuksesan dunia. Namun ironisnya, hasil yang diharapkan tak kunjung didapatkan. Bahkan, ada yang begitu sibuk mengejar dunia hingga rela meninggalkan kewajiban ibadah.

 

“Sebagian orang menghabiskan waktunya hanya untuk dunia, tanpa menyisakan ruang untuk akhirat. Namun pada akhirnya, kesuksesan yang dicari tak juga diperoleh,” ungkapnya di hadapan jamaah.

 

Tak hanya itu, khatib juga menyinggung fenomena masyarakat yang rela berutang dalam jumlah besar demi modal usaha, dengan harapan meraih keberhasilan. Namun kenyataannya, tidak sedikit yang justru berujung pada kegagalan dan beban hidup yang semakin berat.

 

Sementara itu, ada pula yang telah dianugerahi rezeki melimpah, jabatan tinggi, serta harta berlimpah, tetapi hidupnya tidak pernah merasa tenang. Rasa cukup seakan tak pernah hadir dalam hati.

 

Dalam khutbahnya, ustadz Rahmatullah mengutip sabda Rasulullah ? yang menjelaskan bahwa siapa saja yang menjadikan dunia sebagai satu-satunya orientasi hidup, maka Allah akan memberikan berbagai kesulitan dan balasan di dunia.

 

Rasulullah menggambarkan, orang yang hanya fokus pada dunia akan dihadapkan pada urusan yang tercerai-berai serta berbagai masalah yang seolah tanpa solusi. 

 

Kecintaan berlebihan terhadap dunia, lanjutnya, hanya akan membuat hidup dipenuhi kegelisahan.

 

Sebaliknya, bagi mereka yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, Allah menjanjikan tiga keutamaan. Pertama, segala urusan dunianya akan dimudahkan dan setiap masalah akan diberikan jalan keluar. 

 

Kedua, hatinya akan selalu merasa cukup dan penuh rasa syukur, meski dalam kesederhanaan. Ketiga, rezekinya akan terus mengalir meski tanpa harus bersusah payah secara berlebihan.

 

Khutbah ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah kunci utama meraih kebahagiaan sejati. Tidak sekadar mengejar materi, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Allah sebagai tujuan hidup yang hakiki. (AaN)

Bagikan Artikel : WhatsApp
T

Diterbitkan Oleh

Tim Website Nailul Maram