Selamat datang di website resmi Masjid Jami Nailul Maram Kabupaten Sinjai Sebagian orang tidak setia padamu. Mereka setia pada kebutuhannya akan dirimu. Begitu kebutuhan mereka berubah, kesetiaannya pun berubah.❤️ Selamat datang di website resmi Masjid Jami Nailul Maram Kabupaten Sinjai Sebagian orang tidak setia padamu. Mereka setia pada kebutuhannya akan dirimu. Begitu kebutuhan mereka berubah, kesetiaannya pun berubah.❤️
Kembali ke Berita
Dakwah dan Kajian 21 Agustus 2026 17 Kali Dibaca

AL Qur’an Bukan Sekadar Hafalan, Ustadz Fathullah: Jadikan Kompas Kehidupan

AL Qur’an Bukan Sekadar Hafalan, Ustadz Fathullah: Jadikan Kompas Kehidupan

SINJAI — Al-Qur’an semestinya tidak berhenti sebagai bacaan yang dilantunkan, hafalan yang melekat di ingatan, atau hiasan yang tersimpan rapi di sudut rumah. Lebih dari itu, Al-Qur’an harus menjadi kompas kehidupan yang menuntun setiap ucapan, sikap dan perbuatan manusia.

 

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Dr. Fathullah Marzuki, S.Th.I., M.Th.I. saat bertindak sebagai khatib sekaligus imam Salat Jumat di Masjid Jami Nailul Maram, Jumat (21/8/2026).

 

Mengawali khutbahnya, Ustadz Fathullah menyoroti sebuah fenomena yang belakangan viral di tengah masyarakat. Dalam video tersebut, seorang pengunjung ditantang melafalkan Surah Ad-Duha di depan mikrofon. Namun, yang menjadi imbalan dari tantangan hafalan Al-Qur’an itu justru sebuah produk minuman beralkohol.

 

Menurutnya, fenomena tersebut tidak semestinya dianggap sekadar candaan atau gurauan. Jika dilakukan dengan menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bagian dari permainan dan dikaitkan dengan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, hal itu dapat menjadi bentuk pelecehan terhadap kesucian Al-Qur’an sekaligus penghinaan terhadap umat Islam.

 

Namun, kata dia, persoalan yang lebih mendasar bukan semata-mata tentang masih kurangnya masyarakat yang membaca atau menghafalkan Al-Qur’an.

 

“Masalah fundamentalnya adalah Al-Qur’an belum sepenuhnya dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” pesan yang ditekankan dalam khutbah tersebut.

 

Ia mengingatkan, Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dan dihafalkan. Setiap ayat yang dilantunkan harus berusaha dipahami maknanya, ditadabburi, kemudian diwujudkan dalam kehidupan nyata.

 

Sebab, menurutnya, tidak sedikit Al-Qur’an yang hanya menjadi penghias rumah. Dibaca ketika ada kesempatan, dihafalkan untuk sebuah pencapaian, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sehari-hari.

 

Hal serupa, lanjutnya, dapat dilihat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menyinggung masih adanya pejabat yang mengucapkan sumpah jabatan dengan menggunakan Al-Qur’an, namun dalam menjalankan amanah justru tidak mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

 

Karena itu, Ustadz Fathullah mengajak jamaah untuk mengembalikan fungsi utama Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

 

Menurutnya, nilai-nilai Al-Qur’an harus hadir dalam setiap lini kehidupan, mulai dari perkataan, sikap, keputusan hingga tindakan. Kejujuran, amanah, keadilan dan tanggung jawab harus menjadi bagian nyata dari kehidupan seorang Muslim.

 

“Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan dan bagaimana kita bertindak, semuanya harus berlandaskan Al-Qur’an,” pesannya.

 

Ia menegaskan, ketika Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dihafalkan, tetapi juga dipahami serta diamalkan, maka ajarannya akan membentuk pribadi yang lebih baik sekaligus menjadi bekal berharga bagi kehidupan akhirat.

 

Al-Qur’an bukan sekadar untuk dilantunkan. Ia adalah cahaya untuk dijadikan pedoman dalam menapaki kehidupan hingga menjadi penolong di akhirat kelak. (AaN)

Bagikan Artikel : WhatsApp
T

Diterbitkan Oleh

Tim Website Nailul Maram