Rabiul Awal dan Jejak Rasulullah: Dari Kelahiran, Hijrah hingga Wafat
SINJAI — Bulan Rabiul Awal bukan sekadar pergantian lembaran dalam kalender Hijriah. Di bulan inilah tersimpan rangkaian peristiwa besar yang menggetarkan sejarah umat Islam, mulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, pengangkatan beliau sebagai Rasul, perjalanan hijrah ke Madinah, hingga wafatnya Rasulullah SAW.
Pesan penuh makna itu disampaikan Ustadz H. Husain Alimuddin, Lc. saat bertindak sebagai khatib Salat Jumat di Masjid Jami Nailul Maram, Jumat (14/8/2026), bertepatan dengan 1 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Ustadz Husain mengajak jamaah untuk menjadikan Rabiul Awal sebagai momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus meneladani perjuangan dan pengorbanan beliau.
Ia menjelaskan, sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam terjadi pada bulan Rabiul Awal. Di antaranya kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diperingati umat Islam sebagai Maulid Nabi, yang secara masyhur diperingati pada 12 Rabiul Awal.
Selain itu, Rabiul Awal juga dikaitkan dengan pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul, perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah, serta wafatnya Rasulullah SAW pada 12 Rabiul Awal 11 Hijriah di Madinah dalam usia 63 tahun.
Hijrah yang Mengubah Arah Sejarah
Salah satu peristiwa paling monumental yang disoroti Ustadz Husain adalah hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Hijrah bukan hanya perjalanan berpindah tempat.
Lebih dari itu, hijrah menjadi tonggak penting dalam perjalanan dakwah Islam dan kemudian dijadikan titik awal penanggalan Hijriah.
Ustadz Husain menjelaskan, kalender Hijriah mulai ditetapkan pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab sekitar tahun 17 Hijriah.
Para sahabat kemudian menyepakati peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi sebagai awal penanggalan Islam.
"Peristiwa hijrah mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, terkadang dibutuhkan pengorbanan, keberanian dan keikhlasan," demikian pesan yang mengemuka dalam khutbah tersebut.
Ustadz Husain juga mengisahkan keteladanan sahabat Rasulullah SAW, Suhaib bin Sinan, yang rela meninggalkan seluruh harta kekayaannya di Makkah demi dapat mengikuti Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah.
Dalam perjalanan, Suhaib bahkan sempat dicegat kaum Quraisy. Namun, kecintaannya kepada Rasulullah SAW dan tekadnya untuk menyelamatkan iman membuatnya rela kehilangan harta demi sebuah tujuan yang jauh lebih besar.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa harta bukanlah segalanya ketika berhadapan dengan iman dan perjuangan di jalan Allah SWT.
Menjaga Iman hingga Akhir Hayat
Menutup khutbahnya, Ustadz Husain mengajak jamaah menjadikan Rabiul Awal sebagai momentum untuk terus merawat keimanan.
Menurutnya, iman tidak cukup hanya dimiliki, tetapi harus terus dipupuk, disiram dan dijaga melalui amal saleh agar tetap kokoh hingga akhir hayat.
Ia berharap, memasuki bulan Rabiul Awal ini, umat Islam senantiasa diberikan keteguhan iman, kekuatan untuk meningkatkan amal ibadah, serta kemampuan untuk terus meneladani akhlak dan perjuangan Rasulullah SAW.
Dalam momentum 81 tahun Indonesia merdeka, ia juga mengajak jamaah mendoakan para pemimpin agar diberikan hidayah dan kekuatan dalam menjalankan amanah.
"Semoga para pemimpin kita diberikan hidayah untuk menjalankan amanah, memperjuangkan hak rakyat dan membawa bangsa ini menuju kehidupan yang damai," menjadi pesan doa yang disampaikan dalam khutbah tersebut.
Sebab, kedamaian negeri menjadi salah satu kunci agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan baik, tenang dan penuh kekhusyukan.
Rabiul Awal pun akhirnya bukan hanya tentang mengenang sejarah Rasulullah SAW, tetapi tentang bagaimana menjadikan jejak perjuangan beliau sebagai cermin untuk memperbaiki iman, memperkuat amal, dan menebarkan kedamaian dalam kehidupan. (AaN)
Diterbitkan Oleh