Khutbah Jumat: Dunia Tak Lebih dari Sayap Nyamuk
SINJAI – Gemerlap dunia yang sering memikat hati manusia sejatinya hanyalah persinggahan sementara. Pesan itulah yang mengemuka dalam khutbah Salat Jumat di Masjid Jami Nailul Maram, Kabupaten Sinjai, Jumat (17/7/2026).
Bertindak selaku khatib, Ustadz H. Abdul Khalik, S.Pd.I., M.Pd., mengajak seluruh jamaah untuk merenungi hakikat kehidupan dunia yang fana dan mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan yang abadi di akhirat.
Dalam khutbahnya, Ustadz Abdul Khalik menyampaikan sejumlah kaidah penting tentang kehidupan di dunia. Ia menegaskan bahwa melimpahnya kenikmatan dan rezeki yang dimiliki seseorang bukanlah ukuran bahwa Allah SWT meridhainya.
“Kehadiran dunia bukan berarti Allah ridha kepada hamba-Nya. Terkadang seseorang dibukakan pintu-pintu dunia, namun justru membuatnya lalai dan melupakan Allah SWT,” ujarnya.
Ia mengingatkan, orang yang terlena oleh gemerlap dunia dan menjadikannya tujuan utama hidup akan merugi di akhirat. Kenikmatan dunia, kata dia, bisa jadi merupakan kenikmatan yang disegerakan Allah, namun tidak menjamin keselamatan di kehidupan setelah mati.
Pada poin kedua, Ustadz Abdul Khalik mengutip hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan betapa rendahnya nilai dunia di sisi Allah SWT.
“Seandainya dunia ini memiliki nilai di sisi Allah walaupun hanya sebesar sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi kesempatan kepada orang kafir untuk meminum seteguk air,” ungkapnya.
Menurutnya, dunia diberikan kepada siapa saja, baik orang beriman maupun yang tidak beriman. Namun, kehidupan akhirat yang penuh kenikmatan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.
Ia pun mengajak jamaah untuk menyadari bahwa dunia bersifat sementara. Karena itu, setiap manusia hendaknya menjadikan hidup sebagai kesempatan untuk memperbaiki amal dan memperbanyak ibadah.
“Dunia ini adalah lahan untuk akhirat. Apa yang Allah berikan kepada kita bukan untuk membuat kita lupa akhirat, tetapi sebagai wasilah atau sarana untuk meraih ridha Allah SWT,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa hakikat kehidupan dunia adalah tempat beristirahat sejenak sebelum setiap manusia kembali kepada Sang Pencipta.
“Setelah perjalanan singkat di dunia ini, kita semua akan pulang ke kampung akhirat. Maka bawalah bekal terbaik berupa iman, takwa, dan amal saleh,” pesannya di hadapan jamaah.
Menutup khutbahnya, Ustadz Abdul Khalik menekankan bahwa orang beriman tidak boleh tertipu oleh kesenangan duniawi dan terjerumus dalam sikap materialistis.
Sebaliknya, dunia harus dijadikan sebagai tempat beribadah dan mengumpulkan bekal menuju kehidupan sejati yang kekal di akhirat.
Khutbah yang disampaikan dengan penuh keteduhan tersebut mengajak jamaah untuk kembali menata orientasi hidup, bahwa sebesar apa pun kenikmatan dunia, semuanya akan sirna. Sedangkan kehidupan akhirat adalah tujuan yang sesungguhnya. (AaN)
Diterbitkan Oleh