Selamat datang di website resmi Masjid Jami Nailul Maram Kabupaten Sinjai Sebagian orang tidak setia padamu. Mereka setia pada kebutuhannya akan dirimu. Begitu kebutuhan mereka berubah, kesetiaannya pun berubah.❤️ Selamat datang di website resmi Masjid Jami Nailul Maram Kabupaten Sinjai Sebagian orang tidak setia padamu. Mereka setia pada kebutuhannya akan dirimu. Begitu kebutuhan mereka berubah, kesetiaannya pun berubah.❤️
Kembali ke Berita
Dakwah dan Kajian 04 September 2026 17 Kali Dibaca

Status Anak Nabi Tak Menyelamatkan! KH Fadlullah Ungkap Dahsyatnya Keadilan Allah

Status Anak Nabi Tak Menyelamatkan! KH Fadlullah Ungkap Dahsyatnya Keadilan Allah

SINJAI — Tidak ada hubungan darah, status sosial, jabatan, maupun kedudukan yang mampu mengubah ketetapan keadilan Allah SWT. Siapa pun yang memilih jalan kebenaran akan mendapat balasan atas amalnya, sementara siapa pun yang berpaling dari-Nya akan mempertanggungjawabkan pilihannya sendiri.

 

Pesan mendalam tentang keadilan Allah SWT tersebut disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Al Markaz Al Islami Sinjai, Ustadz KH. Fadlullah Marzuki, M.Pd, saat bertindak sebagai khatib dalam Salat Jumat di Masjid Jami Nailul Maram, Jumat (4/9/2026).

 

Dalam khutbahnya, KH. Fadlullah mengangkat konsep keadilan Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 18. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu bersaksi atas keesaan Allah sekaligus menegakkan keadilan (al-qisth).

 

Menurutnya, ayat tersebut tidak hanya menunjukkan keagungan tauhid yang lurus, tetapi juga menegaskan tingginya kedudukan orang-orang berilmu yang mampu menjunjung kebenaran, kejujuran dan keseimbangan dalam kehidupan.

 

Untuk memperkuat pesan tersebut, KH. Fadlullah menyampaikan sejumlah kisah yang menggambarkan betapa objektif dan mutlaknya keadilan Allah SWT.

 

Salah satunya adalah kisah Nabi Adam AS yang mendapat godaan dahsyat dari Iblis. Meski Nabi Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dan sebelumnya berada di dalam surga, ia tetap menjalani konsekuensi ketika melanggar ketetapan Allah SWT.

 

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan dan kedudukan tidak boleh membuat manusia merasa terbebas dari aturan Allah.

KH. Fadlullah juga mengisahkan sosok Abu Dzar al-Ghifari, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal teguh dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.

 

Menurutnya, keteladanan Abu Dzar penting untuk diterapkan dalam kehidupan, terutama dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan tetap menjaga integritas, kejujuran dan keberanian memperjuangkan kebenaran meski menghadapi berbagai tantangan.

 

Kisah lainnya adalah Kan'an, putra Nabi Nuh AS. Meski merupakan anak seorang nabi, Kan'an tetap tidak mendapatkan perlakuan istimewa ketika memilih jalan kekafiran dan menolak ajaran tauhid. Ia akhirnya tenggelam bersama orang-orang yang ingkar.

 

Kisah ini, kata KH. Fadlullah, menjadi bukti bahwa keadilan Allah SWT bersifat objektif. Status sebagai anak nabi tidak otomatis menyelamatkan seseorang ketika dirinya memilih jalan yang bertentangan dengan ketentuan Allah.

 

Sebaliknya, keadilan Allah juga terlihat dari kisah anak-anak Abu Lahab yang memilih masuk Islam. Meskipun Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, mendapat ancaman siksa dalam Al-Qur'an, anak-anak mereka tidak otomatis mewarisi dosa kedua orang tuanya.

 

"Allah Yang Maha Adil tidak membebankan dosa orang tua kepada anak-anaknya," menjadi salah satu pesan penting dalam khutbah tersebut.

 

Hal itu sekaligus mengajarkan bahwa dalam Islam, setiap manusia memiliki tanggung jawab atas amal dan pilihan hidupnya masing-masing.

Tidak ada dosa yang diwariskan, sebagaimana tidak ada amal kebaikan yang otomatis diwariskan. Setiap orang akan berdiri sendiri mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya di hadapan Allah SWT.

 

Di bagian akhir khutbah, KH. Fadlullah mengingatkan bahwa tantangan umat bukan semata-mata karena kurangnya orang hebat, orang berilmu atau orang beriman. Persoalan yang lebih besar adalah masih sedikit orang yang benar-benar peduli dan mau mengambil peran dalam kebaikan.

 

Karena itu, momentum Salat Jumat hendaknya tidak berhenti pada ritual, tetapi menjadi ruang untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.

Ia mengajak jamaah memanfaatkan waktu-waktu mulia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, menyadari bahwa manusia tidak pernah luput dari dosa dan maksiat, serta memperbanyak munajat dan doa.

 

"Semoga Allah memberikan jalan keluar dari lorong kebuntuan hidup kita, melimpahkan rahmat-Nya dan mengabulkan segala doa-doa kita," demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut.

 

Pesan khutbah itu pada akhirnya mengingatkan jamaah bahwa keadilan Allah tidak pernah salah alamat. Yang membedakan manusia di hadapan-Nya bukan garis keturunan, kedudukan ataupun status sosial, melainkan keimanan, ketakwaan dan amal yang dipertanggungjawabkan secara pribadi. (AaN)

 

Bagikan Artikel : WhatsApp
T

Diterbitkan Oleh

Tim Website Nailul Maram