Memaafkan Memang Berat, Tapi di Situlah Kebesaran Jiwa
SINJAI – Menjadi pribadi yang bertakwa tidak cukup hanya dengan memperbanyak ibadah, tetapi juga tercermin dari bagaimana seseorang mengelola harta, emosi, kesalahan orang lain, hingga konsistensinya berbuat kebaikan.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Muhammad Ilyas, S.Ag., saat bertindak sebagai khatib dalam Salat Jumat di Masjid Nailul Maram, Jumat (18/9/2026), bertepatan dengan 7 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Ustadz Muhammad Ilyas mengupas kandungan Surah Ali Imran ayat 133-134 yang menggambarkan pentingnya berlomba-lomba dalam kebaikan sekaligus ciri-ciri orang yang bertakwa.
Ia menjelaskan, dalam Surah Ali Imran ayat 133, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan amal saleh demi meraih ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
“Bersegera dalam kebaikan berarti tidak menunda kesempatan untuk beramal. Sebab, kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali,” demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut.
Sementara pada ayat 134, lanjutnya, Allah SWT menggambarkan sejumlah karakter utama orang-orang yang bertakwa.
Pertama, gemar berinfak. Orang bertakwa senantiasa menyisihkan sebagian hartanya di jalan Allah SWT, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Kebaikan tidak menunggu seseorang menjadi kaya, tetapi dilakukan sesuai kemampuan dalam keadaan apa pun.
Kedua, mampu menahan amarah. Menurutnya, kemampuan mengendalikan emosi merupakan salah satu bentuk kekuatan diri. Ketika marah, seseorang dituntut tidak membiarkan emosinya mendorongnya melakukan tindakan yang justru merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Ketiga, memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan, kata dia, membutuhkan kebesaran jiwa. Terlebih ketika seseorang merasa disakiti atau diperlakukan tidak baik.
Namun, orang yang bertakwa tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai alasan untuk terus menyimpan dendam.
Keempat, berbuat kebaikan atau ihsan. Berbuat baik menjadi puncak dari pengendalian diri dan kebajikan. Sebab, Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
Ustadz Muhammad Ilyas kemudian mengajak seluruh jemaah untuk menjadikan pesan tersebut sebagai bahan introspeksi dalam kehidupan sehari-hari.
Terlebih, ia menekankan pentingnya membuka ruang untuk saling memaafkan. Menurutnya, memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, melainkan memilih untuk tidak terus terbelenggu oleh rasa marah dan dendam.
“Sudah saatnya kita membuka pintu saling memaafkan,” menjadi pesan yang ditekankan dalam khutbah Jumat tersebut.
Ia mengingatkan, kehidupan akan terasa lebih ringan ketika manusia mampu mengendalikan amarah, memaafkan kesalahan sesama, serta membalas keburukan dengan kebaikan.
Khutbah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa ketakwaan bukan hanya tercermin dari hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga dari bagaimana seseorang memperlakukan sesama manusia.
Berbuat baik ketika lapang, menahan amarah ketika tersulut, memaafkan ketika disakiti, dan tetap berbuat ihsan dalam setiap keadaan menjadi bagian penting dari jalan menuju ketakwaan.
Diterbitkan Oleh