Tubuh Boleh Lelah, Amanah Tak Boleh Berhenti: Kisah Ketua Pengurus Masjid Nailul Maram
SINJAI — Tidak semua bentuk pengabdian hadir dalam sorotan panggung. Tidak semuanya terdengar lewat pengeras suara. Ada yang justru berlangsung dalam diam, di balik kemudi, di jalanan, bahkan dalam sebuah lelap yang hanya berlangsung beberapa saat.
Kamera baru-baru ini menangkap sebuah pemandangan sederhana di depan Masjid Akri Balangnipa, Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Seorang pria tampak terlelap di teras masjid. Sekilas, tidak ada yang istimewa.
Namun, ketika cerita di baliknya ditelusuri, tidur singkat itu ternyata menyimpan kisah panjang tentang kelelahan, tanggung jawab, dan pengabdian tanpa banyak bicara.
Pria tersebut adalah Muzawwir, Ketua Pengurus Masjid Jami Nailul Maram yang dalam kesehariannya juga mengemban tugas sebagai sopir mobil jenazah Masjid Jami Nailul Maram.
Hari itu, selepas menunaikan salat Zuhur, Muzawwir masih harus menunggu waktu untuk menjemput jenazah Almarhum Mustari Alwi sekitar pukul 15.00 WITA di belakang Puskesmas Balangnipa.
Jenazah tersebut selanjutnya akan dibawa menuju Masjid Akri Balangnipa untuk disalatkan sebelum kemudian dihantar menuju tempat peristirahatan terakhir di pekuburan Lempangen.
Sebelumnya, Muzawwir mendapat informasi bahwa jenazah akan dibawa ke masjid sebelum Zuhur. Namun, situasi di lapangan membuat waktu penjemputan bergeser.
Dan di sela-sela penantian itulah tubuh yang sejak pagi terus bergerak akhirnya menyerah pada rasa lelah.
Bukan di kamar dengan kasur empuk. Bukan pula di rumah dengan suasana nyaman. Ia terlelap di teras masjid, sembari menunggu panggilan untuk menjalankan tugas berikutnya.
Mungkin hanya beberapa menit. Tetapi bisa jadi, bagi tubuh yang kelelahan, beberapa menit itu terasa seperti hadiah yang sangat berharga.
Hari itu bahkan bukan hanya satu kendaraan jenazah Masjid Jami Nailul Maram yang bergerak.
Dua mobil ambulans jenazah milik Masjid Jami Nailul Maram sama-sama berada di jalan, menjalankan tugas kemanusiaan di waktu yang hampir bersamaan.
Satu kendaraan dipersiapkan untuk menjemput jenazah Almarhum Mustari Alwi. Sementara satu kendaraan lainnya meluncur menuju Jalan Kalampeto, Kelurahan Lappa, untuk menjemput jenazah Almarhumah Ibu Beda. Kendaraan tersebut dikemudikan oleh Wawan.
Dua kendaraan. Dua perjalanan. Dua keluarga yang sedang berduka. Dan di balik semuanya, ada orang-orang yang memilih untuk hadir ketika orang lain sedang berada dalam kesedihan terdalam.
Mereka bukan keluarga dari jenazah yang diantar. Mereka mungkin tidak mengenal dekat orang yang berada di dalam peti.
Namun ketika telepon berbunyi dan kabar duka datang, mereka bergerak. Menyalakan mesin. Mengemudikan kendaraan. Menjemput jenazah, mengantarnya menuju masjid kemudian membawa hingga ke pemakaman.
Begitulah roda pelayanan sosial Masjid Jami Nailul Maram terus berputar.
Muzawwir sendiri tidak hanya dikenal sebagai Ketua Pengurus Masjid Jami Nailul Maram. Di balik jabatan tersebut, ia juga mengambil bagian dalam pelayanan sosial yang mungkin tidak selalu terlihat oleh banyak orang.
Dan foto dirinya yang tertidur di depan Masjid Akri Balangnipa seakan menjadi potret kecil dari sebuah pekerjaan besar yang jarang mendapatkan tepuk tangan.
Tidak ada panggung. Tidak ada penghargaan. Tidak ada sorotan khusus. Hanya sebuah kendaraan, jalan yang harus ditempuh, dan amanah yang harus ditunaikan.
Jika lelah datang, ia beristirahat sejenak.
Jika panggilan datang, ia kembali terjaga.
Sebab di balik setiap jenazah yang sampai ke tempat peristirahatan terakhir dengan tenang, ada tangan-tangan yang bekerja dalam senyap.
Tidur Muzawwir mungkin hanya sebuah kejadian kecil. Tetapi dari sana kita bisa melihat sisi lain sebuah pengabdian: bahwa orang yang melayani juga manusia, bisa lelah, bisa mengantuk, dan bisa kehabisan tenaga.
Namun ketika amanah memanggil, mereka kembali bangkit. Karena bagi mereka, membantu mengantarkan seseorang menuju peristirahatan terakhir bukan sekadar pekerjaan.
Itu adalah bentuk pelayanan, kepedulian, dan amal kemanusiaan yang dilakukan dalam diam. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika foto itu kembali dilihat, orang tidak lagi sekadar melihat seorang lelaki yang sedang tertidur.
Tetapi melihat seorang pelayan kemanusiaan yang sedang mencuri sedikit waktu untuk memulihkan tenaga, sebelum kembali mengantar mereka yang telah dipanggil pulang oleh Sang Pencipta.
Diterbitkan Oleh