Selamat datang di website resmi Masjid Jami Nailul Maram Kabupaten Sinjai • Sebagian orang tidak setia padamu. Mereka setia pada kebutuhannya akan dirimu. Begitu kebutuhan mereka berubah, kesetiaannya pun berubah.❤️ • Selamat datang di website resmi Masjid Jami Nailul Maram Kabupaten Sinjai • Sebagian orang tidak setia padamu. Mereka setia pada kebutuhannya akan dirimu. Begitu kebutuhan mereka berubah, kesetiaannya pun berubah.❤️ •
Kembali ke Berita
Dakwah dan Kajian 30 Oktober 2026 5 Kali Dibaca

Hidup Cuma Persinggahan! Ustaz Ibnul Qoyyim Ungkap 5 Bekal Penting Menuju Surga

Hidup Cuma Persinggahan! Ustaz Ibnul Qoyyim Ungkap 5 Bekal Penting Menuju Surga

SINJAI – Kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Setiap manusia ibarat seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan panjang, dengan tujuan akhir kehidupan yang sesungguhnya, yakni akhirat.

 

Pesan penuh makna tersebut disampaikan Ustaz Ibnul Qoyyim saat bertindak sebagai khatib dalam salat Jumat di Masjid Jami Nailul Maram, Jumat (30/10/2026), bertepatan dengan 19 Jumadil Awal 1448 Hijriah.

 

Dalam khutbahnya, ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat, dengan harapan memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT, yakni surga.

 

Menurutnya, manusia memiliki dua dimensi utama yang harus dipersiapkan selama hidup, yakni jasadiyah (fisik atau jasmani) dan ruhiyah (spiritual atau rohani). Keduanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

 

Karena itu, setiap aktivitas yang melibatkan anggota tubuh maupun hati harus senantiasa dijaga agar tidak menyimpang dari tuntunan agama.

 

Lebih lanjut, Ustaz Ibnul Qoyyim menjelaskan lima bekal ruhiyah yang perlu dimiliki setiap Muslim agar tetap istiqamah di jalan kebaikan.

 

Pertama, Mu'ahadah, yakni senantiasa mengingat janji kepada Allah SWT untuk beriman dan taat kepada-Nya.

 

Kedua, Muraqabah, yaitu menumbuhkan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap tindakan, ucapan, bahkan segala sesuatu yang terlintas dalam hati manusia.

 

Ketiga, Muhasabah, yakni membiasakan diri melakukan evaluasi terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan, sehingga dapat memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas ibadah.

 

Keempat, Mu'aqabah, yaitu memberikan pembinaan atau hukuman yang mendidik kepada diri sendiri ketika melakukan kelalaian maupun dosa. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbanyak amalan sunnah, berinfak, atau berpuasa sebagai bentuk kesungguhan memperbaiki diri.

 

Kelima, Mujahadah, yakni mengerahkan seluruh kemampuan lahir dan batin untuk melawan hawa nafsu, menjaga konsistensi ibadah, serta tetap tegar menghadapi berbagai ujian dalam mempertahankan keimanan.

 

Melalui khutbah tersebut, jemaah diajak untuk tidak hanya sibuk mempersiapkan kebutuhan kehidupan dunia, tetapi juga memperhatikan kualitas iman, ibadah, dan amal saleh sebagai bekal perjalanan menuju akhirat.

 

Sebab, perjalanan hidup di dunia memiliki batas waktu, sementara kehidupan akhirat merupakan tujuan akhir yang membutuhkan persiapan sejak sekarang.

 

Bagikan Artikel : WhatsApp
T

Diterbitkan Oleh

Tim Website Nailul Maram