Saat Hati Berserah, Ikhtiar Tak Boleh Berhenti
SINJAI – Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Justru, berserah diri kepada Allah harus berjalan beriringan dengan ikhtiar, karena manusia diperintahkan untuk berusaha, sementara hasil akhirnya menjadi ketetapan Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Drs. Ashadi Arma saat bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Jami Nailul Maram, Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara, Jumat (2/10/2026), bertepatan dengan 21 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Ashadi menjelaskan bahwa tawakal merupakan sikap percaya sepenuhnya kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. Sikap tersebut tercermin dengan menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan berbagai ikhtiar, sekaligus tidak larut dalam kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan.
Menurutnya, orang yang bertawakal meyakini bahwa setiap peristiwa yang terjadi berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah SWT yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.
“Tawakal bukan sekadar pasrah, tetapi merupakan bentuk keyakinan kepada Allah setelah manusia menjalankan usaha yang terbaik,” demikian inti pesan khutbah yang disampaikan.
Ashadi juga menguraikan sejumlah tingkatan tawakal yang menggambarkan kedalaman iman dan kepercayaan seseorang kepada Allah.
Pertama, tawakal asas, yakni keyakinan dasar kepada Allah dalam berbagai keadaan. Kedua, tawakal yang disertai usaha, yaitu seseorang tetap berusaha secara maksimal, namun menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Sementara tingkatan tawakal yang lebih tinggi adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan keyakinan bahwa apa pun yang ditetapkan-Nya merupakan bagian dari rencana terbaik, tanpa dihantui kecemasan berlebihan.
Dalam khutbahnya, Ashadi mengaitkan konsep tersebut dengan kisah Nabi Ayyub AS yang dikenal sebagai salah satu teladan kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian.
Kisah Nabi Ayyub AS menggambarkan bagaimana seorang hamba tetap mempertahankan keimanan dan kesabarannya ketika menghadapi cobaan berat. Namun, menurut pesan khutbah tersebut, ketawakalan tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar.
Ashadi menegaskan bahwa tawakal tidak bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, tawakal semestinya berjalan bersama ikhtiar, termasuk usaha secara fisik untuk menghadapi persoalan kehidupan.
Dengan demikian, seorang Muslim dituntut untuk melakukan usaha terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, manusia tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Ikhtiar perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh, sementara hati tetap bersandar kepada Allah SWT.
Sebab, manusia bertugas berusaha, sedangkan Allah SWT yang menentukan hasil akhirnya.
Diterbitkan Oleh